Kesesuaian Penggunaan Merek di Indonesia

Di Indonesia, merek harus “digunakan” dengan cara yang sesuai dengan format, warna, font, desain, dan barang/jasa dalam sertifikat pendaftaran merek. Jika merek dagang digunakan dengan cara yang tidak sesuai dengan sertifikat pendaftaran mereknya, maka pendaftaran merek tersebut terancam dibatalkan dengan alasan “tidak sesuai”, bahkan jika pemilik trademark Indonesia memiliki alasan yang sah untuk tidak menggunakan mereknya dengan cara yang sesuai dengan sertifikat pendaftaran merek (walaupun ada pengecualian tertentu).

Karena konsekuensinya berpotensi menjadi malapetaka bagi pemilik merek yang pendaftaran mereknya dibatalkan dengan alasan tidak digunakan, dalam artikel ini, kami akan membahas kesesuaian penggunaan merek di Indonesia dan perubahan yang akan datang pada Undang-Undang Merek di negara tersebut.

Dasar Hukum dan Definisi

Undang-undang Merek Indonesia yang berlaku saat ini memberikan kewenangan kepada Direktorat Jenderal Kantor Hak Kekayaan Intelektual untuk membatalkan pendaftaran merek baik atas inisiatif sendiri, atas permintaan pemilik merek, atau sebagai akibat dari pengajuan pihak ketiga dalam bentuk gugatan di Pengadilan Niaga.

Merek dagang terdaftar dapat dibatalkan dengan alasan berikut:

  •     karena tidak sesuai dengan persyaratan yang diperlukan;
  •     digunakan untuk barang atau jasa yang berbeda dengan yang diberikan pendaftarannya; atau
  •     jika penggunaan merek tidak sesuai dengan merek terdaftar.

“Sesuai” juga berarti bahwa penggunaan merek yang sebenarnya harus untuk barang atau jasa yang tercantum dalam sertifikat pendaftaran. Jika penggunaan sebenarnya dari merek tersebut untuk barang atau jasa yang berbeda, pendaftaran merek untuk semua atau sebagian dari barang atau jasa yang diterapkan dapat dibatalkan.

Mengingat hal ini, di Indonesia, disarankan untuk menggunakan merek dengan gaya, format, warna, dll. yang persis sama dalam sertifikat pendaftaran merek. Dan saat mengajukan aplikasi merek dagang, pemohon harus mengajukannya dengan cara yang sama persis seperti yang direncanakan untuk menggunakan merek dagang di pasar.

Baca juga : Sistem Satu Pintu Pengumpulan Royalti Musik di Indonesia